Egoisme dan Nurani

Posted in Filsafat on November 25, 2009 by antihitamputih

Terkadang kita sebagai manusia sangat egois dengan segala hal yang kita inginkan atau yang tak pernah kita inginkan. Dan itupun sangatlah wajar adanya.

Keegoisan – keegoisan yang dimiliki manusia pada dasarnya berawal dari satu titik atau bahkan lebih, yaitu nafsu yang didomonasi oleh pikiran atau logika. Semuanya itupun pada dasarnya  bersumber dari panca indera yang dimilikinya seperti ; mata yang dapat melihat warna – warni pelangi, telinga yang mampu membedakan nada – nada, lidah sebagai alat perasa, hidung yang mencium aroma yang ada, hingga kulit yang dapat membedakan antara kasar dan halus.

Logika manusia dapat bekerja jika mendapat rangsangan atau dengan kata lain menerima supply dari panca indera yang bekerja secara sendiri – sendiri atau terorganisir dengan atau tanpa adanya komando. Jika panca indera kita sudah bekerja maka maka akan menghasilkan output baik positif maupun negatif seperti halnya buah pikiran, kreatifitas dan lain sebagainya. Logika yang ada pada dasarnya didominasi oleh nafsu yang terlahir secara sempurna atau premature tergantung dari keilmuan yang dimilkinya. Nafsu – nafsu itulah yang melhirkan benih – benih keegoisan serta kemunafikan yang menyelimutunya serta mampu menutup nurani.

Jika tidak dapat meredam dan mengendalikannya maka nafsu – nafsu inilah yang dalam bentuk ego akan menjadi racun dalam tubuh yang mengalir dalam setiap pembuluh darah dan nadi yang lama – kelamaan akan merusak susunan dan jaringan tubuh dan saraf si manusianya itu sendiri.

Nah … Disinilah fungsi hati diperlukan. Dimana fungsi hati sebagai penetralisir racun yang ada dalam tubuh. Secara hakikatnya fungsi hati dalam artian luas pun sama yaitu menetralisirkan racun – racun dalam hati dan pikiran. Artinya fungsi hati disini sangat diperlukan untuk menahan dan penyeimbangkan antara pikiran atau logika dengan sikap – sikap yang mempengaruhinya.

Setiap manusia yang terlahir pada dasarnya baik dan nurani inilah yang selalu menuntun manusia kearah kebaikan yang hakiki.

Filsafat Ilmu Pengetahuan Alam ;

Segala sesuatu yang ada pasti memilki massa dan menempati ruang dan benda yang memilki massa lebih besar akan selalu mempengaruhi benda yang massanya lebih kecil, karena setiap benda memilki gaya tarik terhadap benda lain.

Jika ditinjau dari filsafat tersebut diatas, maka tidaklah salah jika pikiran kita yang selalu didominasi oleh nafsu – nafsu hasil suplly dari panca indera yang bekerja tanpa henti dan selalu menari dalam pikiran serta menawarkan sesuatu yang semu tak dapat diredam akan melahirkan ego dan jiwa – jiwa ambisius yang terkurung didalamnya serta akan melahirkan suatu program pencapaiannya. Meskipun hati nurani kita pun sudah memilki program, yaitu kebaikan.

Jiwa – jiwa yang terkekang secara emosi harus segera ditolong segera dengan memberi penawar racun itu sendiri dan penawar racun tersebut pada dasarnya sudah adan dalam bentuk imunitas dalam tubuh kita sendiri “Hati dan Nurani”.

Pada dasarnya setiap manusia memilki nurani, tapi yang menjadi masalah adalah bagaimana menyeimbangkan antara pikiran yang dituangkan dalam sikap dan olah kata dapat dikontrol oleh nurani sehingga tidak akan melahirkan parade sakit hati oleh sikap dan kata kita…

Lemah Abang

Agama dan Aliran Keagamaan

Posted in Filsafat on November 17, 2009 by antihitamputih

Agama berasal dari bahasa sang sekerta, yaitu A yang berarti tidak  dan GAMA yang berarti kacau – balau sehingga agama dapat didefinisikan tidak kacau atau tidak berantakkan. Jika ditinjau dari artian tersebut maka agama itu sendiri memilki makna sebagai pengikat antara manusia dengan lainnya yang tidak tertulis dan yang tertulis.

Agama pada dasarnya adalah aturan atau norma – norma yang mengikat masusia itu sendiri dengan aturan – aturan baku atau tidak baku yang mencakup norma itu sendiri, moralitas serta pengakuan dan penyerahan diri teradap Sang Pencipta. Jika kita tinjau lebih dalam lagi, maka agama dapat dikatakan sebagai aturan main yang berada dalam masyarakat yang telah mencakup semua aspek kehidupan, baik kehidupan dan hubungan  sosial hingga hubungan kita dengan Sang Pencipta.

Keberadaan agama pun hingga kini masih dianggap sebagai momok yang menakutkan yang mengkait – kaitkan antara surga dan neraka. Yang artinya adalah jika dilepaskan dari kata surga dan neraka maka dengan adanya agamapun masyarakat atau dalam hal ini manusia pasti akan kacau balau seperti zaman jahilliyah :pembodohan”. Lah wong dengan ada agama yang telah mengkait – kaitkan kedua dimensi yang belum diketahui “Surga dan Neraka” manusianya saja sudah kacau balau apa lagi tanpa adanya agama atau adanya agama tanpa menakut nakuti dengan adanya surga dan neraka.

Tuhan dalam hal ini Sang Pencipta alam semesta pun pada dasarnya tidak menciptakan agama itu sendiri. Jadi boleh dibilang dengan kata lain agama merupakan suatu komoditas dan identitas status sosial dalam masyarakat yang berhubungan dengan kepercayaan yang dianutnya.  Tuhan tidak pernah menciptakan agama A atau pun agana B dan lain sebagainya yang Ia mau adalah bagaimana hamba-Nya dalam hal ini manusia-Nya dapat berhubungan dengan baik diantara ciptaan-Nya dan Sang Pencipta-Nya saja. Yang Tuhan bilang dalam kitab – kitab-Nya dalam bahasa yang mudah atau sulit dimengerti adalah selamat, Yang artinya adalah terserah manusianya itu sendiri dalam menjalani hidupnya yang penting mereka “Hamba-Nya” dapat kembali kepadanya dalam keadaan selamat “suci” seperti pertama kali mereka diciptakan atau dilahirkan. Artian selamat dalam hal ini tentunya tidak dapat lepas dari ilmu yang dimilki manusia irtu sendiri yang akan mempengaruhi pola pikir dan sikapnya.

Agama merupakan suatu identitas status religius manusia dalam kelompok – kelompok besar atau kecil yang memainkan peranan sangat penting dalam hidup dan kehidupan masyarakat. Dalam artian sedikit sempit agama juga dapat dikatakan sebagai organisasi keyakinan yang didalamnya terdapat sub – sub organisasi lainnya. Jadi boleh dibilang penamaan – penamaan agama pada dasarnya merupakan pemberian manusia itu sendiri baik yang diperoleh melalui wahyu yang di bawa utusan-Nya hingga olah spiritual manusianya itu sendiri.

Tidak sembarangan mungkin kita membentuk suatu organisasi keyakinan yang mengkait – kaitkan antara Tuhan, surga – neraka hingga untaian – untaian kata tang tertuang dalam bait puisi dan do’a dalam kitab suci. Karena Keberadaan agama dapat diakui dan diterima oleh masyarakat luas jika memilki syarat – syarat sebagai berikut :

1. Adanya Tuhan

Tuhan yang diyakini sebagai suatu zat pencipta dan pengatur alam semesta ini. Baik secara penebutan tentang panggilan sayang terhadap Tuhannya hingga pengaturan secara simbolis melalui lambing dan symbol.

2. Adanya Kitab Suci

Untaian kata – kata sakti yang menyakitkan, menenangkan hingga bersifat rayuan dan janji  manis sang pencipta yang tertuang dalam satu buku sacral yang diyakini sebagai firman tuhan yang dibawa oleh utusan-Nya sebagai syarat mutlak kedua harus dipenuhi karena jika tidak keberadaan agama itu sendiri masih disangsikan.

3. Cara Peribadatan / Penyembahan

Ini merupakan suatu prosesi pengakuan diri dari hamba terhadap penguasanya. Jadi dalam hai ini tata cara dalam beribadah menjadi kunci utama yang membedakan antara agama yang satu dengan yang lainnya meskipun memilki tujuan yang sama.

Ketiga syarat tersebut diatas menjadi wajib hukumnya jika kita ingin mendirikan suatu organisasi keyakinan yang mengkait – kaitkan antara tuhan, surga – neraka hingga semua aspek kehidupan.

Kesulitan – kesulitan yang paling besar ditimbulkan adalah pada bagian yang ke dua yaitu kitab suci suatu agama, karena kitab suci suatu agama tersebut tidak boleh sama dengan kitab suci agama lian yang sudah ada dan tidak boleh menyadur dengan kitab suci agama lain. Kitab suci merupakan kitab sacral yang menjadi pedoman bagi para pemeluk suatu agama, yang konon katanya kitab Suci merupakan perkataan – perkataan tuhan melalui utusan-Nya untuk hamba-Nya.

Karena kesulitan membuat suatu kitab sakral tersebutlah maka banyak yang coba mengadopsi kitab – kitab yang ada dengan berlabelkan agama tersebut tetapi tidak sedikit pula ditemui perbedaannya. Sebagai contoh yaitu menentukan arah beribadah, cara beribadah hingga pengakuan rosul dan malaikat atas dirinya. Jika kenyataanya seperti iru maka hal tersebut tidak dapat dikatakan sebagai agama melainkan sebagai sub – sub dari agama yang sudah ada atau dengan kata lain masyarakat kita berkecenderungan menyebut Aliran agama atau aliran keagamaan.

Adanya aliran agama atau aliran keagamaan yang berkembang pesat saat ini layaknya jamur musim hujan merupakan parade – parade kekecewaan yang telah lahir dan memiliki pola pikir berbeda dengan apa yang telah ada tentang agama itu sendiri atau bahkan memiliki pe,ahaman berbeda tentang suatu konsep yang telah dituangkan dalam kita agamanya.

Agama dan aliran agama atau aliran keagamaan pada dasarnya memiliki persamaan yang mendasar yaitu prosesi penyerahan diri terhadap keeksistensian Sang Khalik dan sama – sama mencari dan mengajarkan kebenaran. Namun kini agama dan aliran agama atau aliran keagamaanpun sudah benar – benar menjadi komoditas dan mengandung muatan – muatan politis.

Yang perlu dikhawatirkan adalah, jika muatan politis tersebut positif maka akan melahirkan kebijakkan – kebijakkan yang positif pula. Tetapi sebaliknya jika muatan politis bersifat negatif maka keberadaan agama dan aliran agama atau aliran keagamaanpun akan menjadi senjata dan alat pemusnah massal layaknya bom atom dan siap menghanguskan seisi dunia.

Kesinambungan antara agama dan aliran agama atau aliran keagamaan lainnya adalah agama dan aliran agama atau aliran keagamaan dianggap sebagai suatu alat transpotrasi menuju Sang Pencipta. Yah meski hati orang tidak ada yang tahu sebenarnya. Jadi hal ini tergantung dari niat individunya masing – masing.

Keegoisan dan muatan lainlah yang menciptakan perbedaan – perbedaan yang dapat meruncing hingga melahirka pertumpahan darah karena yang satu menganggap paling benar begitu pula yang lainnya.

Jika kita coba untuk berfikir sejenak dan membuka mata, hati dan telinga kita, maka perbedaan merupakan rahmat yang harus disyukuri sebagai suatu dinamisme hidup sehingga dapat meminimalisir peruncingan. Karena pada dasarnya agama mengajarkan kita pada kebenaran.

Lemah Abang

Manusia Dan Ketebatasan Serta Dalam Pengakuan Terhadap Tuhan

Posted in Filsafat on November 15, 2009 by antihitamputih

Berbicara mengenai manusia maka tidak lepas dari kata keterbatasan. Karena setiap manusia tidak lepas dari keterbatasan baik keterbatasan secara fisik hingga non fisik meskipun manusia itu sendiri merupakan mahluk tuhan paling sempurna. Keterbatasan manusia non fisik itu sendiri pada dasarnya merupakan keterbatasan yang ditimbulkan oleh keterbatasan panca indera hingga melahirkan paradigma – paradigma pemikiran yang diluar nalar manusianya itu sendiri seperti pemikiran manusia terhadap sesuatu zat yang mengatur dan menciptakanan semesta kita ini.

Pengakuan manusia terhadap tuhan merupakan keterbatasan yang diluar nalar manusia itu sendiri karena pada dasarnya zat yang tidak dapat diidentifikasi itu, baik secara materi maupun keberadaannya.  Tuhan merupakan zat yang diyakini sebagai sesuatu “zat” yang maha dasyat yang tidak dapat diurai sceara terperinci oleh akal dan ilmu pengetahuan. Contoh sederhana ketika terjadi letusan gunung disuatu daerah, maka penduduk sekitar akan beranggapan bahwa ada suatu zat “penguasa gunung” yang tidak suka atau sedang murka dengan penduduk desa itu. Sehingga penduduk desa akan melakukan ritual untuk keselamatan mereka semua dengan cara membaik – baiki penguasa gunung tersebut seperti memberikan persembahan atau ritual lain hingga mengorbankan jiwa manusia itu sendiri.

Hal tersebut sampai dilakukan karena keretebatasan ilmu pengetahuan yang dimilki oleh penduduk desa. Ketika hal tersebut dapat diurai dengan nalar maka prilaku – prilaku tersebut berangsur – angsur akan berubah baik secara sikap hingga pemikiran. Tapi ada sesuatu yang tak dapat diurai oleh akal dan panca indera kita yaitu Tuhan. Tuhan hingga kini tidak dapat diterjemahkan oleh akal kita sebagai hamba “manusia yang penuh keterbatasan”.

Berkembangnya ilmu pengetahuan hingga kini pun masih mencari sebuah jawaban tentang keberadaan tuhan serta materi pembentuk-Nya, seperti teleportasi sebuah alat yang konon digunakan sebagai alat transportasi antar dimensi sampai pemikiran atau pola pikir orang yang sudah mati apakah ikut mati atau tidak. Jika hal tersebut dapat diteliti maka tidak menutup kemungkinan akan terkuak satu konsep baru mengenai Tuhan yang hingga sekarang pun tuhan sebagai sang pencipta masih dalam tebakan manusianya sebagai hamba-Nya yang merasa ketergantungan kepadanya. Jangankan tuhan Iblis, mahluk ciptaan-Nyapun hingga kini tidak dapat dideteksi tentang materi penyusunnya. Konon iblis terbentuk oleh api, yang logika sederhanya api pun ada didunia kita ini tetapi konsep tentang iblispun masih sagat sukar untuk diterjemahkan secara teknologi dan keilmuan. Jika iblis dapat diidentifikasi keberadaannya serta materi apai yang menyusunnya maka tidak menutup kemungkinan keberadaan neraka yang berada disuatu dimensi yang belum diketahui itupun akan terkuak.

Yang perlu disadari oleh kita sebagai hamba adalah api dunia, api penyususn ibils serta api neraka memiliki unsur – unsur yang berbeda. Jika terdapat kesamaan secara sempurna maka manusia itu sendiri dapat mengetahui dimendi yang tidak pernah diketahuinya itu “Neraka”. Apalagi tentang Tuhan. Karena keterbatasan – keterbatasan yang dimiliki manusia itu sendiri maka mau tidak mau atau suka tidak suka manusia itu sendira hakrus dan akan mengakui suatu zat tunggal yang tidak dapat diterjemahkan akal sehan dan ilmu pengetahuan itu, yaitu Tuhan.

Lemah Abang

Manusia dan Pola Pikir Serta Pandangan Hidup

Posted in Filsafat on September 8, 2009 by antihitamputih

Berbicara tentang manusia memang tiak ada habisnya, yang kesemuanya itu telah dimuai sejak awal Adam dicitakan atau mungkin sejak Adam melanggar larangan Tuhan Sang Maha Pencipta hingga dibuang dari tempat yang penuh kenikmatan “konon”.

Berawal dari sinilah maka banyak permasalahan – permasalahan yang timbul hingga saat ini, yang kesemuanya tidak dapat dipisahkan dari pola pikir yang telah membentuknya “manusia”. Karena pada dasarnya pola pikir itu sendiri yang  telah membentuk paradigma berpikir dan pandangan – pandangan hidup manusianya. Sehingga pola pikir dan pandangan hidup setiap manusia berbeda – beda tergantung dari apa yang ia dapat atau permasalahan – permasalahan yang sering dihadapinya.

Setiap manusia pasti memiliki pola pikir dan cara pandang tentang segala hal, karena pada setiap manusia dilengkapi dengan akal. Dari permasalahan – permasalahan yang sering dihadapinya akan melahirkan satu padanganan tentang bagaimana cara atau solusi untuk menghadapi permasalahan – permasalahan itu. Baik permasalahan yang dihadapi tentang suatu keinginan, ambisi serta cita – cita hingga konsep kehidupan yang dilaliuinya.

Pola pikir itu sendiri dapat timbul dengan sendirinya ketika manusia itu terbentur oleh suatu permasalahan hingga akhirnya ia akan terbentuk karakternya oleh permasalahannya itu sendiri. Karena ketika kita mulai berpikir maka kita sendiri telah dihadapi  oleh suatu masalah yang mungkin permasalahannya terlalu abstrak hingga sulit untuk diungkapkan dengan kata.

Pandangan – pandangan hidup pada dasarnya terbentuk oleh beberapa faktor yang sangat dominan mempengaruhi manusia, antara lain ;

  1. Cita –  cita → Cita dan angan merupaka awal dari suatu permasalahan yang akan dihadapi sehingga dapat membentuk karakter berpikir serta pola pikir dan pandangan hidup dari suatu permasalahan yang timbul. Karena setiap kita bercita – cita atau menginginkan sesuatu maka kita juga akan berpikir bagaimana meraih dan mewujudkannya, sehingga cita – cita dapat menjadi faktor yang sangat mempengaruhi pola pikir dan pandangan hidup seseorang.
  2. Pengalaman → Pengalaman merupakan guru terbaik yang dimiliki oleh setiap orang. Belajar tidak hanya membaca atau mendengar dan menulis saja, Belajar yang baik adalah  memadukan ketiganya menjadi satu kesatuan yaitu melakukan dengan melakukan maka kita akan membaca karakter permasalahan, menganalisi permasalahan serta mencari solusi dari permasalahan yang dihadapai “analisis” seningga dengan melalukan maka kita telah belajar baik disengaja atau tidak.
  3. Pendidikikan → Pendidikan merupakan faktor penunjang dari suatu pola pikir cara pandang karena pada dasarnya pendidikan dapat merubah pola pikir dan cara berpikir seeorang. Tentunya akan sangat berbeda cara berpikir dan cara menyelesaikan suatu permasalahan seorang yang mengenyam pendidikan dengan orang yang tidak mengenyam pendidikan. Meski pendidikan tidak dapat sepenuhnya menjadi jaminan pembentukan karakter seseorang tetapi minimal dari pendidikan itulah seseorang dapat menjadi sedikit dewasa dalam segala hal.
  4. Pergaulan → Karakter manusia dapat terbentuk oleh pergaulan baik pergaulan dalam akademis “sekolah, kampus atau lembaga lainnya”, ataupun non akademis “keluarga dan masyarakat”. Pergaulan dapat membentuk kepribadian dan pola pikir seseorang. Maka dalam pembentukan pola pikir dan cara pandang pergaulan sangat mempengaruhi karena dalam pergaulan maka kita belajar melakukan “Pengalaman”.

Keempat faktor tersebut merupakan faktor yang membentuk dan mempengaruhi pola pikir, kedewasaan dan pandangan hidup seseorang karena tidaklah mungkin pandangan hidup serta paradigma beripkir dan kedewasaan seseorang dapat timbul tanpa adanya faktor yang mempengaruhi dan membentuknya, dalam hal ini adalah permasalahan – permasalahan yang dihadapi baik dalam pencapaian suatu tujauan yang berkaitan dengan cita dan angan hingga masalah percintaan.

Lemah Abang

Psikologi Kematian

Posted in Filsafat on Juni 21, 2009 by antihitamputih

Hidup dan ada didunia ini hingga saat ini tidak pernah berpesan pada Tuhan sebelumnya dan hingga menjadi apa nanti, terlahir dari rahim siapa pun tak pernah berpesan pada Tuhan sebelumya. Hingga kekurangan dan kelebihan yang diberikan Tuhan itupun bukan barang pesanan. Karena mungkin kita sudah tahu Tuhan menerapkan sistem dagang ala supermarket atau plaza yang tidak mungkin untuk ditawar dan tidak dapat dipesan sebelumnya.

Mungkin setiap dari kita sudah tahu dan mengerti akan barang dagangan Tuhan yang tidak dapat ditawar – tawar lagi oleh satupun mahluk-Nya didunia ini, seperti ; lahir dan menghilang “maut atau ajal”, jodoh dan rejeki yang kesemuanya itu dibalut dan dirangkai dalam suatu paket produk yang dinamakan takdir.

Berbicra mengenai takdir “kematian” …

Kematian merupakan hal yang sangat ditakuti oleh siapa pun “manusia” yang hidup, termasuk kalian “pembaca” dan mungkin saya “penulis”. Karena dalam benak kita yang hidup, kematian merupakan suatu proses berhentinya fungsi – fungsi tubuh secara keseluruhan baik fisik atau pun non fisik yang bersifat permanent “selamanya”. Dalam hal ini mati lahir dan mati bathin.

Kematian merupakan suatu fenomena alam yang sudah pasti dan akan datang pada setiap partikel – partikel yang memiliki nyawa dan hidup, baik hewan, tumbuhan dan kita manusia. Karena pada dasarnya bagi kita yang hidup telah melakukan perjanjian khusus denga Sang Khalik bahwa stelah kita dihembuskan nafas kehidupan maka akan diambil kembali kapan waktu dan setelah kita dicukupkan atau disempurnakan baik akal, pengetahuan hingga usia yang diberikan. Mau atau tidak mau, bisa atau tidak bisa da suka atau tidak suka.

Jika kita yang hidup tidak mati, maka dunia ini akan muak dan sumpek karena tidak mampu menopang kita yang selalu beregenerasi dan menghasilkan keturunan – keturunan baru. Dunia ini pun akan terasa sempit karena volume dunia yang terbatas dan tidak sebandingnya dengan kapasitas manusianya yang semakin bertambah. Bayangkan…

Dan jika kita yang hidup akan tetap hidup dan tidak mati, maka Tuhan dengan segala kuasa dan kekekalan-Nya patut untuk dipertanyakan. Karena Tuhan itu sendiri pun sudah patut untuk dipertanyakan ke-eksistensian-Nya yang ditopang oleh dimensi “ruang dan waktu”.

Pernah penulis bertanya ketika penulis duduk dibangku kuliah di salah satu kampus islami ternama di Jakarta. Pertanyaan yang mungkin nyeleneh dan sedikit sedehana tetapi sulit untuk mendapatkan penjelasan yang berawal dari sebuah kue putih  yang mengatas namakan penebusan dosa.

Pertanyaannya adalah :

Jika kita umat islam diajarkan tentang hari pembalasan serta akhirat, yang mengartikan bahwa disana kita akan dimasukan kedalam surga jika kita beramal shaleh selama hidup didunia dan kita akan dimasukan kedalam neraka jika kita banyak berbuat maksiat selama hidup. Begitu pula  diajaran umat nasrani yang mengatakan jika kita makan kue putih yang cerita atau mungkin riwayatnya penebusan dosa dari Isa Almasih, maka umat Nasrani pun akan masuk kedalam surga. Diajaran agama lain seperti Hindu dan Budha pun juga mengenal satu dimensi setelah kita meninggalkan dunia ini dan menuju alam kekal, yaitu surga dan neraka. Intinya sederhana kesemua agama mengajarkan kebaikan dan mengatakan tentang satu alam kekal setelah kita bermutasi dari alam fana ini dan meninggalkannya menuju alam kekal.

Sedangkan yang menjadi pertanyaannya adalah …

Jika setelah kita semua mati dan ternyata disana tidak ada yang surga atau neraka, disana hanyalah ruang hampa dan gelap serta tak ada apa – apa. Kita bagaikan setitik cahaya dalam kegelapan tanpa siapaapun dan tanpa apa pun dan tiba – tiba kita kembali lagi kedunia fana ini untuk menebus dosa masa lalu “reinkarnasi”

Jawaban yang sangat tidak memuaskan dan berkecendrungan memvonis itu terlontar dari mulut sang nara sumber yang mengatakan itu adalah faham kosong “Nihilsme” tanpa adanya penjelasan lebih lanjut meski setelah seminar itu bubar sang nara sumber datang dan mengusap – usap punggung ku seraya berkata pertanyaan bagus hanya waktunya saja yang tidak tepat.  Mungkin ada dimensi – dimensi lain dibelahan dunia ini atau mungkin dibelahan ruang dan waktu yang mungkin memilki celah untuk diamati serta dikaji lebih dalam lagi

Ada satu hal yang penulis ingin sampaikan melalui bingkai karikarur pemikiran penulis pada kalian “pembaca” sekaligus teman belajar ku… Bahwa kematian itu adalah sesuatu yang wajar dan akan menghampiri serta datang pada setiap mahluk yang bernyawa. Tetapi bagaimana kita menghadapi kematian itu ketika datang…

Jika boleh penulis menganalogikan konsep tentang datangnya kematian maka akan tervisualisaikan dua konsep kematian yang ada dibenak penulis, yaitu

  1. Kematian akan datang dalam perwujudan wanita cantik dengan senyuman serta membawa kopi hitam dengan sebatang samsu. Jika memang kematian seperti itu datangnya maka tidak akan ada yang merasa takut untuk mati.. Ketakutan – ketakutan akan kematian yang datang adalah karenakan oleh kitanya saja belum siap untuk mati karena kita masih banyak doasa dan mungkin kita terlalu mencintai dunia yang semu ini.
  2. Kematian akan datang dalam perwujudan laki – laki berkumis tebal layaknya debt kolektor yang dating membawa berkas utang piutang yang seakan – akan menagih dan akan menyita jika kita tidak membayarnya. Jika memang kematian seperti itu datangnya maka tidak ada ynag siap intuk mati meski ia mendertia didunia. Karena jangankan untuk melihat, untuk membayangkannya saja kita sudah enggan

Ada satu hal yang lebih menakutkan dari penjelmaan kematian pada versi yang ke dua (2), yaitu matinya eksistensi diri serta jati diri. Karena kematian jenis ini merupakan kematian psikis yang menyebabkan matinya identitas diri kita.

Siapa kita ?

Dari mana kita?

Dan Akan Kemana kita

Dari ketiga pertanyaan yang mendasar tersebut timbul satu pernyataan tentang konsep KITA ang mengatakan bahwa KITA berfikir maka KITA ada

Kematian jenis inilah yang seharusnya lebih ditakuti dan di antisipasi bukan kematian fisik melainkan kematian karakter…maka gunakanlah akal pikiran serta nurani selama hidup sehingga jika kita mati nanti “fisik” karakter kita akan tetap hidup dalam diri dan pikiran orang lain.

Lemah Abang

Manusia dan Penderitaan

Posted in Filsafat on Juni 20, 2009 by antihitamputih

Penderitaan berawal dari sebuah masalah, maka jika kita berbicara mengenai penderitaan maka kita harus melihat pokok permasalahan yang yang menimbulkan penderitaan. Penderitaan itupun merupakan bagian dari hidup dan kehidupan kita “manusia” dan akan selalu begitu dari dulu hingga kini bahkan nanti hingga akhir zaman. Menderita – Senag, Baik – Buruk, Sukar – Mudah begitu seterusnya yang menjadi siklus kehidupan.

Penderitaan berawal dari masalah dimana masalah itu sendiri adalah segala sesuatu yang tidak mencapai target atau harapan. Penderitaan yang dialami setiap manusia memilki kadar yang berbeda – beda sesuai denga kapasitas perasaan dan definisi mereka tentang itu, karena penderitaan hingga kini belum ditemukan parameternya. Karena jika kita berbicara mengenai hati akan sangat sulit untuk menentukan parameter dan acuan yang valid.

Penderitaan pun masih dapat dikategorikan sebagai lawan dari sebuah cinta dan harapan, sehingga penderitaan itu sendiri tetap akan dapat melahirkan karya – karya seni tingkat tinggi sama hanya seperti cinta. Penderitaan berasal daer bahasa sangsekerta yaitu Dhra – Sak yang artinya adalah menahan atau menanggung serta merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan baik bersifat psikis atau non psikis.

Lemah Abang

Manusia dan Cinta Kasih

Posted in Filsafat on Juni 20, 2009 by antihitamputih

Cinta…

Jika kita dengar kata – kata itu maka akan teringat pada satu definisi dasar yang berhubungan dengan persaan yang mungkin dapat mengingatkan kita pada seseorang yang memilki arti khusus dalam diri atau hidup kita. Persaan itu “Cinta” pasti akan datang pada diri setiap manusia ditampik atau tidak. Nurani setiap manusia pasti akan mengakui tentang perasaan yang satu itu ”Cinta” hanya saja mulutlah yang berkata bohong.

Cinta hanya datang pada mahluk Tuhan yang bernama manusia karena pada diri setiap diri manusia akan selalu diimbangi oleh akal dan nafsu. Dan cinta tidak akan pernah datang pada mahluk Tuhan lainnya karena mereka “Mahluk Tuhan Selain manusia” hanya memilki nafsu saja atau bahkan tidak sama sekali. Sebagai contoh sederhana malaikat, ia hanya memilki kebaikan saja dan selalu beribadah pada Tuhan begitu pula Iblis yang hanya memilki nafsu keburukan “menghasut dan selalu mengajak kita “manusia” agar mengikuti jalannya”. Kebaikan dan keburukan tersebut dapat dikategorikan kedalam nafsu atau emosionalitas. Pada binatang dan tumbuhanpun demikan. Hewan atau binatang hanya memilki nafsu dan bukan cinta karena pada hewan atau binatang didak disertai akal dan nurani.

Perasaan yang berawal dari pandangan mata hingga turun kehati merupakan bagian dari hidup dan kehidupan manusia, yang esensinya dapat melahirkan kreatifirtas dan cipta atau hasil karya melalui proses akhir, yaitu tanggung jawab. Cinta pada dasarnya dapat dikatakan sebagai budaya yang menggunakan perasaan serta akal sehat.

Dari sebuah cinta dapat melahirkan satu bentuk seni yang dituangkan dalam goresan kertas dan kanvas seperti seni lukis dan gambar.

Dari sebuah cinta dapat melahirkan satu bentuk seni yang memadukan irama dan nada dalam satu dinamisasi yang dikenal sebagai lagu dan seni musik.

Dari sebuah cinta dapat melahirkan satu bentuk seni melalui goresan pena yang disebut sajak, pantun atau novel.

Dari sebuah cinta dapat melahirkan satu bentuk seni yang menggabungkan antara medidisasi nada dan goresan pena yang melahirkan drama, film dan lain sebagainya.

Dan dari sebuah cintalah dapat melahirkan tanggung jawab, baik pada pasangan atau orang yang kita cintai atau pada lainnya, maka

Dari sebuah cintalah terlahir manusia – manusia baru yang menghuni semesta kita ini.

Ungkapan yang ditimbulkan dari satu kata cinta tentulah tidak dapat dilepaskan dari suatu media perantara yang dapat menggambarkan dan memvisualisasikan serta mendefinisikan tentang perasaan “Cinta” tersebut, baik melalui alat komunikasi “bahasa” yang melahirkan sajak, puisi dan lain sebagainya atau bahkan yang meng-irama-kan nada dan shimpony.

Jika kita berbicara mengenai cinta maka itupun tidak dapat dipisahkan dengan unsur – unsur seni dan kebudayaan yang ada. Cinta sama dengan budaya yaitu suatu rasa, karya dan karsa.

Cinta bukanlah suatu monopoli orang dewasa saja tetapi cinta juga dapat hadir pada anak kecil tanpa memandang siapa, dari mana, warna kulit dan lain sebagainya. Karena cinta pada dasarnya merupakan suatu rasa yang sangat sulit untuk diungkapkan, baik dengan kata atau nada. Cinta itu sendiri tidak dapat dipisahkan dari kasih dan sayang karena keduanya “antara kasih dan sayang” merupakan aplikasi lanjutan atau esensi dari sebuah kata cinta melalui beberapa kata dalam bentuk kasih, sayang, pemujaan dan lainnya yang kesemuanya akan dibalut dalam satukata tingkat tinggi, yaitu tanggung jawab.

Cinta itu sendiri memilik unsur – unsur yang mempengaruhinya. Dengan kata lain penunjang sebagai pembuktian dari pengorbanan karena cinta syarat akan pengorbanan. Seperti ; Tanggung jawab, pengorbanan, kejujuran, pengertian saling percaya dan terbuka dan masih banyak lagi.

Muhamad Iqbal. eorang philosof Pakistan mengatakan tentang cinta. Cinta dimata Iqbal memiliki dimensi spiritual yang dinamakan Isyq-o muhasbat yang memberikan daya kreatifitas yang hidup dan sebagai berdirinya suatu pribadi dan kepribadian. Dimana cinta menduduki urutan pertama dalam tariqh (suatu jalan, cara atau ikhtiar) hingga menuju penyempurnaan diri dan pensucian hati. Cinta menurutnya juga merupakan stasiun terakhir yang terletak pada Tuhan yang bersifat fundamental.

Definisi tepat yang dapat menggambarkan tentang cinta sangatlah sulit untuk dijelaskan secara terperinci dan sempurna, karena jika api cinta sudah berlobar maka akan sangat sulit untuk dipadamkan. Cinta merupakan kekuatan spiritual yang dapat membangkitkan fungsi – fungsi kecerdasan emosional dan secara spiritualitas dapat menembangkan potensi – potensi orang  yang sedang mengalaminya.

Lemah Abang

Men(Tuhan)kan Akal Dalam Batasan Sebagai Hamba ?

Posted in Filsafat on Juni 19, 2009 by antihitamputih

Oleh : Khaerudin

Pada saat manusia berkenalan dengan dirinya, untuk yang pertama kali mereka seperti pengantin baru. Mengapa demikian ? Ada cerita yang bisa mungkin dijadikan suatu simbiosis yang berkorelasi dengan dimensi psikis manusia itu sendiri. Dahulu sebelum di perkenalkan betapa hebatnya sebuah pikiran banyak sekali orang yang tidak tahu di balik sesuatu yang hebat tersimpan suatu bahaya yang hebat pula.

Proposal Tuhan (semoga Engkau memaafkan penulis..?), DIA mengajukan suatu konsep yang terintegrasi, atas sifat-sifatnya yang teraktualisasi dalam bentuk sekumpulan sel yang menjadi individu yang disiapkan menjadi khalifah kelaknya.

Sudah di prediksikan sebelumnya bahwa proposal tersebut di tolak, tapi dalam hal ini penulis tak akan menceritakan tentang penolakan tersebut, penulis hanya berusaha menyampaikan kenapa kita di persilahkan mengkritisinya.

Beberapa fakta yang mau dan perlu penulis tekankan untuk direnungkan:

Segala konsepsi-konsepsi hasil pemikiran manusia hendaknya perlu dipahami bahwa manusia itu tidak lepas dari hamba yang bersama alam raya akan musnah.

Ketakjuban kita akan ilmu pengetahuan tak lebih dari rumusan akal manusia dengan segala kekurangannya, yang berusaha di matematika kan berdasarkan keterbatasan filsafat akal manusia itu sendiri.

Dalam dimensi akal manusia perlu sangat di sadari kehebatan akalnya hanya sedikit dari ilmu Tuhan, seperti janji-Nya ” seandainya ada salah satu hambaKu mampu menembus langit sesungguhnya manusia itu tak akan mampu, kecuali orang-orang yang berilmu”.

Perwujudan filsafat dan akal manusia adalah lahir dari benturan peradaban pemikirannya sendiri dengan pengalaman hidupnya dan kedangkalan mereka menstabilkan dengan harmonis antara hati (atas nama cinta) dengan akal itu sendiri.

Korelasi yang rigid bisa sering terjadi manakala manusia dengan terus menerus mengikuti apa yang menjadi Tuhannya dengan mengedepankan logika mantik yang bersifat in absensia.

Secara kenseptual penulis katakan “akal bukan Tuhan versi manusia tetapi akal adalah perwujudan kehormatan Tuhan yang sesungguhnya yang diberikan pada beberapa hamba yang di pilihnya dengan tujuan hamba tersebut menjadi wali-Nya di dunia, maka di harapkan akal bukan senapan yang mematikan, akal bukan nuklir yang menghancurkan, akal bukan melahirkan filsafat yang menyebabkan manusia tidak lagi mengenal dirinya sendiri. akan tetapi akal sebagai jembatan yang mampu di wujudkan sebagai manifestasi manusia itu kembali kepada fitrahnya. mungkin hanya ini yang bisa saya tulis dengsan banyak kekurangannya, semoga bermanfaat.

Lebih Baik Bingung Tapi Tahu Apa Yang Buat Aku Bingung

Posted in Sabda Guru - Guru Kecilku on Juni 19, 2009 by antihitamputih

Oleh : Nisa XII Tata Boga 1

aQ mw tau apa sBenarnya makna hidup ya sedang ku jaLani  ..
kadang salah kadangpun benar .. !!
entah apa yang harus aQ lakukan !!
mungkin sebagian orang disekelilingku beranggapan
“jalani hidup bagaikan air”
aQ pun punya aRti berbeda tentang air ituu ..
hanya air dan cahaya menurutku
dua unsur yang paling kuat ya ada didunia ..
apa yang harus ku alami mungkin adalah jalankuu
untuk menjadi seseorang manusia bergunaa ..
mungkin dengan daya pikir yg sederhana itu yg mrmbuatkuu
berjalan dalam gelap ..
dan bernafas dalam air ..

aQ sllalu berfikir untuk diriku dan hidupkuu ..
andai aQ tauu jalan yg telah ku lewati ..
mungkin aQ sedang berjalan diatas bukit yg berjurang dalam dan siap untuk terbang atau terjatuh ..
andai aQ terlahirr utuh dengan duniia yg lain ..
aQpun sllalu bermimpi untuk ituu ..

tuhanpun adil dengan cipyaanya ..
dia slalu menciptakan sMua dgn berpasangan ..

satu sisi lain yg belum terungkap dan ku jalani dalam hidupkuu ..

huuuuuhuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu….

Tuhan (Diciptakan atau Menciptakan)

Posted in Filsafat on Juni 16, 2009 by antihitamputih

Alam semesta kita ini terbentuk atas zat – zat yang ada dan melakukan reaksi – reaksi dengan sendirinya. Sedangkan zat – zat yang melakukan reaksi – reaksi dengan sendirinya itupun telah diatur oleh zat tunggal pengatur alam semesta ini, yang mungkin disebut Tuhan.

Dari segi ilmu pengetahuan, filsafat dan agama pun ketiganya mengatakan Tuhan sebagai zat tunggal pengatur semesta raya dan bersifat kekal. Jika kita tinjau dari artian tersebut,  maka Tuhan adalah zat meskipun itu tunggal dan kekal. Sedangkan menurut ilmu fisika diamana zat merupakan segala sesuatu yang memiliki massa dan menempati ruang. Dengan kata lain Tuhan pun membutuhkan pijakan sebagai sandaran keberadaan-Nya atau dapat dikatakan bahwa Tuhan masih terbentur dalam ruang dan waktu untuk eksistensi-Nya.

Sebagai contoh sederhana, Jika suatu partikel, zat atau atom X, maka si atom X itupun akan memiliki massa sebesar (m) dengan nomor atom (n). Maka dengan kata lain Tuhan sebagi zat tunggal dan kekal harus dipertanyakan eksistensinya yang erat kaitannya dengan produk-Nya yang menciptakan atau bahkan Tuhan pun diciptakan oleh alam semesta atau mungkin pula ada dengan sendirinya dan melakukan konfigurasi elektron sebagai bukti keeksistensian-Nya sehingga menghasilkan semesta raya ini.

Adanya tentang Tuhan itu sendiri tidak lepas dari ruang dan waktu dimana kedua hal tersebut bersifat mutlak dan kekal. Permasalahan tentang dunia yang dilingkupi oleh dimensi ruang dan waktu dalam kaitannya sebagai penopang keberadaan Tuhan pun masih disangsikan apakah dunia ini nantinya akan hancur atau mungkin kekal.

Jika dunia ini hancur maka dimana Tuhan akan berdiri ?

Tetapi jika dunia ini kekal dan abadi maka ada yang lain selain tuhan dan bersifat kekal, lalu dinama ke-Esaan Tuhan ?

Aristoles mengatakan dengan teorinya yaitu Creatio Ex Nihilo, Ia mengatakan bahwa dunia ini kekal dan abadi dan menyifatkan dari gerak tuhan sebagai zat tunggal penggerak dan sekaligus pengatur alam semesta. Jika ditinjau dari Hukum I Newton dengan Hukum kelebamannya mengatakan bahwa semua partikel dialam semesta kita akan selalu mempertahankan kedudukannya. Jika awalnya partikel itu bergerak maka sampai kapanpun partikel tersebut akan bergerak begitu juga jsebaliknya, ika partikel itu awalnya diam maka akan terus diam.

Mengenai apakah dunia ini kekal atau diciptakan oleh Tuhan dari ketidakadaan masih menjadi misteri yang belum dapat dipecahkan baik dari segi filsafat muslim sekalipun. Berbeda dengan Aristoteles, Tusi seorang philosof muslim mengatakan tentang Tuhan. Ia mengatakan bahwa waktu sudah ada sebelum dunia atau semesta ini ada dan kemudian Tuhan menciptakannya dari ketidakadaan dan secara jelas menggambarkan bahwa Tuhan bukanlah sang pencipta sebelumnya. Jika kita tinjau dari pendapat Tusi, maka ada lebih dari satu Zat yang menciptakan dan zat kedua berakar dari zat yang pertama

Jika lebih dalam ditinjau maka Tuhan bukanlah sang pencipta dan Tuhanpun diciptakan oleh zat lain yang sudah ada sebelumnya. Pendapat kontroversi dari Tusi pula mengatakan bahwa dunia ini ada dan diciptakan dari ketidakadaan begitu pula ruang dan waktu dan menurutnya bahwa tuhan sebagi pencipta yang bebas mencipta dan menumbangkan segala teori tentang penciptaan-Nya.

Masalah tentang keesaan dan kekekalan Tuhan pun masih sangat diragukan jika dibenturkan dengan ruang dan waktu. Karena ruang dan waktu akan selalu melingkupi semesta kita ini meski didemensi lain sekalipun.

Lemah Abang