Ignas Kleden pernah mengatakan, agama yang tidak berada di langit yang sempurna dan suci murni dan dari sana mengetarai Tuhan, tetapi selalu dia merupakan agama manusia biasa dengan darah dan daging.Dari ungkapan itu, dapat menelusur jauh tentang apa sesungguhnya yang disebut agama. Dari berbagai tafsiran tentang agama, yang dapat dikemukakan di sini. Marx Weber memandang bahwa agama adalah persoalan “problem of meaning”. Sejalan dengan weber, adalah Parsons, yang menyebut agama sebagai pengisi kesenjangan antara harapan social dan pengalaman. Pandangan lain yang bertentangan nampaknya berasal dari kubu Marxist, yang menyatakan bahwa agama tak lebih sebagai opium dalam masyarakat. Agama tidak membawa perubahan, dan justru menjadi alat pengesah bagi kelas sosial atas. Maka agama hanyalah instrumen yang membuat kelas bawah beku kreativitasnya. Pendapat-pendapat membawa kesimpulan sederhana, bahwa dalam khasanah ilmu-ilmu sosial muncul dua pohon besar pendapat tentang agama. Pertama, yang melihat bahwa agama memiliki peran sentral perubahan dunia. Kedua, lebih melihat agama sebagai instrument bagi kepentingan tertentu.
Pendapat pertama, yang diwakili oleh Weber, Parsons, dan tokoh-tokoh lain, semisal Malinnowski, jelas sekali bahwa peran agama di masyarakat demikian sentral. Agama menjadi kekuatan penggerak masyarakat (baca : perubahan sosial), karena agama memiliki dimensi makna yang hidup dan berkembang dalam individu-individu masyarakat. Pada aras ini kita melihat, seperti dikatakan Weber, bahwa agama akan berkaitan dengan politik, ekonomi, dan dunia pada umumnya. Tatanan agama menduduki peringkat paling tinggi dalam diri manusia, sehingga dari sana menuntun individu untuk bertindak dan membangun struktur sosial dan ekonomi. Contoh yang dapat diambil dari kubu ini adalah studi yang dilakukan oleh Weber sendiri tentang Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme.
Pendapat kedua yang biasanya serumpun dengan Marxist, menyebut bahwa agama adalah bentukan manusia dan tak pernah manusia dibentuk oleh agama. Lebih lanjut, Negara dan masyarakatlah yang berhasil membangun apa yang disebut agama. Hal itu berhasil membalik kesadar-an manusia, karena telah berhasil membalik tentang dunia itu sendiri. Agama, dengan demikian, hanyalah realisasi fantastis dari umat manusia. Kesimpulannya, kalangan yang memiliki kuasa yang mampu menentukan arah dan menggunakan agama untuk memperteguh kepentingannya. Dengan demikian, agama telah menjadi opium bagi masyarakat. Memang pandangan ini terlalu sinikal pada peran agama di dunia. Tetapi, jika kita mengikuti para pengikut Neo-Marxis, seperti Frankfurter Schule, kita juga menemukan bagaimana agama juga memiliki semangat liberasi bagi kaum tertindas dan mampu menyediakan nilai untuk membangun komunikasi antar manusia yang emansipatoris. Bahkan Schumpeter, dalam perkembangannya, menyebut bahwa Marxisme juga sejajar dengan agama itu sendiri. Tentu pendapat ini membawa perdebatan tersendiri bila diteruskan. Hanya di sini, kita bisa lebih jelas melihat bahwa agama memiliki sisi yang demikian kompleks. Terlepas dari perdebatan teoritis di atas, mengikuti Kleden, kita dapat mengatakan bahwa agama memiliki sisi kompleks, karena hidup dalam komunitas manusia yang senantiasa berkembang. Dengan demikian, perkembangan agama tidak mungkin dicerabut dari konteks yang melingkupinya, di mana agama tersebut hidup. Agama terus langgeng dan berkembang karena memiliki sistem kepercayaan, ritual-ritual, pengalaman subyektif, dan komunitas.
Perkembangan agama yang terus menerus menyebabkan agama mengalami evolusi. Mengikuti Bellah, ia membagi evoluii agama dalam lima tahap : primitif, archaic, historic, awal.modern, dan modern. Realita yang sesungguhnya, jelas bahwa agama evolusi tidak bisa direduksi menjadi lima tahap saja. Bahkan Bellah mengaku, “Pada kenyataannya hanya ada dua istilah yang sering diacu ketika membahas tentang agama, yaitu tradisional dan modern”. Agama Primitif berciri khas antara agama yang sakral, tidak bisa dilepaskan dari dunia keseharian. Sistem simbol pada tingkat primitif ini dikarakteristikkandalam bahasa Stanner sebagai “the Dreaming”.
Dua hal penting dari dunia mistis agama primitif adalah : pertama, tingginya dunia mistis yang berkaitan dengan gambaran detail dan dunia aktual. Dalam artian ini, seluruh dunia kehidupan semacam pohon, sungai, batu, dan gunung digambarkan dalam mimpi-mimpi. Kedua, agama primitif tidak mengenal bentuk pelembagaan agama yang baku. Karenanya, struktur ritual lebih menyerupai “penawaran, destruksi, transformasi, dan kembali. Ke komunion.” Akhirnya dunia kehidupan religius hadir dan tetap sebagai rutinitas dunia keseharian.
Agama Archaic memiliki keberadaan sistem simbol yang lebih terkarakterisasi. Manusia mampu mengontrol dan mengobyektivikasikan keberadaan dunia mistis. Tindakan religius yang diambil pada bentuk pemujaan adalah mulai membedakan antara manusia sebagai subyek dan dewa-dewa sebagai obyek. Definisi ini lebih jelas dibanding dalam agama primitif. Proses pelembagaan agama juga semakin luas. Institusi agama semakin terkait dengan struktur sosial yang lain dan memiliki fungsi-fungsi pembedaan yang mulai muncul. Implikasi sosialnya lalu lebih luas ketimbang agama primitif, di mana individu dan masyarakatnya bergabung dalam kosmos . “natural-devine“.
Agama Historik mampu menghadirkan sisi transedental. Manusia mampu membedakan “dunia supernatural” dan “dunia yang ada di bumi” dan mengorganisasikan kedua hal itu dalam hirarki yang sah. Pada level ini akhirnya manusia mengenal sisi kehidupan di dunia dan kehidupan sesudah mati. Dualisme baru dalam agama pun muncul. Tindakan religius yang hadir adalah upaya untuk keselamatan, yang terkait dengan prinsip dualisme. Kemunculan dualisme juga membawa dampak pada sistem organisasi religius. Hadir kemudian sistem yang memiliki dua hal yang terpisah, yaitu organisasi yang benifat politis dan religius. Implikasi sosial yang kelihatan adalah timbulnya konflik antar elit memperebutkan posisi. Sebagai contoh perebutan pengaruh antara nabi Israel dengan raja atau ulama dan sultan.
Agama Awal-Modern adalah era dimana struktur hirarki yang kaku mulai di hancurkan. Agama-agama mengalami serangan reformasi.Contoh pada era ini adalah hadirnya “reformasi protestan”. Sistem simbol yang bermain adalah hubungan langsung antara individual dan realitas transedental. Tindakan religius lalu menuntut penyerahan dan pelayanan total kepada Tuhan dalam setiap jalan kehidupan. Implikasi social yang ditimbulkan adalah membuat dunia kehidupan social berkembang secara luar biasa. Semangat kapitalisme yang berasal dari etika Protestan bias diletakan di sini sebagai contoh. Pada masa transisi antara agama awal-modern menuju agama modern inilah kita melihat juga munculnya gerakan besar-besaran “sekularisasi”. Sekularisasi ini pula yang menyebabkan dimensi spiritualitas agama mengalami pergeseran-pergeseran. Proses ini terjadi didukung oleh kekakuan-kekakuan yang dilakukan oleh organisasi agama dan kenyataan-kenyataan social.
Agama modern memiliki cirri yang berbeda dengan agama-agama sebelumnya. Pada era ini agama mengalami perubahan signifikan. Mengikuti teolog Friedrich Schleiermacher, era modern membawa implikasi pada berkembangnya “liberal theology”. Tillich menyebutnya sebagai “ecstatic naturalism” dan Bultmann menyebutnya sebagai “program demitologisasi”. Agama modern juga dicirikan oleh, semakin cairnya kembali bentuk-bentuk hirarki organisasi yang tadinya demikian kaku. Ucapan Thomas Jefferson kiranya pas untuk menggambarkan struktur organisasi religius : “I am a sect myself”. Implikasi social yang muncul adalah semakin terbukanya masyarakat, yang terlepas dari kuasa agama di era agama awal-modern. Era ini juga menampilkan sisi-sisi cair dari dogma-dogma yang kaku.
Setelah menjelajah melihat evolusi agama, saatnya kita membawa persoalan yang konkret di hadapan kita atau yang hadir di masyarakat kita. Mengapa ini menjadi penting ? Oleh karena masyarakat kita sekarang ini menghadapi persoalan serius yang sesungguhnya berakar sejak masa lalu, tetapi tidak pernah dipecahkan sampai sekarang, yaitu persoalan hubungan antar etnik, agama atau ras. Dan juga, yang tak kalah pentingnya adalah bahwa masyarakat kita juga menghadapi sebuah perubahan zaman, memasuki milenium baru dengan segala persoalannya. Persoalan yang kiranya mengemuka adalah, bagaimana nasib (hubungan), agama di,masa depan dalam masyarakat kita yang majemuk ? Akankah agama memilki peran ? Jikalau, memiliki, bisakah agama menjadi Spirit untuk membangun masyarakat baru ?. Melalui pertanyaan-pertanyaan di atas, kiranya bisa dihubungkan antara peran agama dan peran kebangsaan, yang mungkin juga dialami oleh setiap bangsa.
1 tanggapan kepada “Agama, Sekedar Penjelajahan”
Hiu
November 1st, 2010 pada 14:32
Nice post gan…