
Tamasya ria dalam dunia imejeinasi dimensi ruang dan waktu tanpa batas memang sangat menyenangkan, karena disinilah kita dapat mengekspresikan diri kita sesukanya dalam dimensi khayalan tersebut. Setiap dari kita pun pernah melakukan hal tersebut dan mungkin sangat sering kita lakukan dalam hidup kita tanpa kita sadari atau dengan disadari ketika kita merasakan sebuah kenikmatan, kebahagian, kepenatan dan permasalahan yang ada. Seperti berkhayal ingin menjadi apa, memiliki apa, hingga menjelajah diri kita lebih dalam lagi. Penjelajahan dalam sebuah konsep memang terkadang sangat mengasyikan atau bisa juga sangat membosankan semua tergantung dari kebutuhan dahaga akan sesuatu pemuas dari semua tanya dan penat yang ada atau hanya sekedar iseng saja.
Khayalan – khayalan yang dibangun dalam diri dan pikiran pada dasarnya merupakan suatu proses kerja jiwa dalam tubuh. Jiwa – jiwa yang terkurung dalam angkuh tubuh akan berkerja sesuai dengan transformasi tentang apa yang didapatnya melalui panca indera yang dimiliki serta diatur “terkontrol dan terkoordinasi dengan jiwa” tanpa harus digerakkan seperti ; pengelihatan, pendengaran, penciuman, perasaan dan perasa yang berfungsi sebagai indera jiwa.
Menyelami jiwa dalam dimensi tanpa batas merupakan suatu proses pengenalan dan pencarian akan sebuah eksistensi diri yang selalu dipertanyakan dalam sebuah konsep manusia yang hakiki dan berkaitan dengan konsep tauhidiyah. Jiwa – jiwa yang ada dalam diri manusia dan terkurung dalam angkuh tubuh merupakan substansi sederhana dan immateriil yang dapat merasa sendiri tetapi tidak bisa dirasakan melalui alat – alat tubuh yang ada karena akomodasi fisik yang ada dalam tubuh sangatlah terbatas.
Ibn Bajjah, seorang philosof muslim yang mendasarkan teori psikologinya pada konsep fisika seperti halnya Aristoteles. Dimana jiwa dan tubuh, baik yang alamiah maupun yang tidak alamiah tersusun atas materi – materi penyusunnya dan terkait dengan bentuk. Jiwa memiliki segala yang bereksistensi serta melaksanakan fungsinya tanpa harus digerakkan atau bergerak. Jiwa tidak bersifat homogen dan funginya pun heterogen. Unsur dan sifat jiwa pun pada dasarnya dapat dibedakan menjadi ;
1. Nutritif
Setiap mahluk yang fana melaksanakan suatu fungsi khusus demi kedudukannya dialam semesta ini serta memiliki dua tujuan dalam alam ini, yaitu (1). pertumbuhan, yang berkaitan dengan makanan atau nutrisi. Pada pertumbuhan setiap mahluk akan selalu memenuhi kebutuhannya yang berkaitan dengan pertumbuhan dan perkembangannya. dan (2). perkembangbiakan atau reproduksi, tujuan dari perkembangbiakkan adalah untuk mempertahankan spesies agar tidak punah dengan kata lain regerasi pada spesiesnya.
Unsur dan sifat nutritif pada jiwa manusia pada dasarnya sama dengan unsur nutritif pada binatang sehingga pada unsur ini selalu berkaitan dengan cara bertahan hidup dan memenuhi kebutuhan hidupnya “makan” serta melangsungkan kehidupannya dengan segala cara. Begitu pula akan kebutuhan biologisnya.
2. Imajinatif
Menempati posisi tengah antara jiwa hewani dan jiwa manusiawi. Jiwa manusiawi ditandai dengan adanya akal yang menerima pengetahuan. Dimana akal dibedakan menjadi dua hal, yaitu ; (1). Akal teoritis dan (2). Akal praktis. Jiwa imajinatif berkaitan dengan persepsi – persepsi rasa di salah satu pihak dan dengan penalaran rasional serta logika di pihak lain. Pada sifat inilah suatu penghargaan sangat dibutuhkan oleh setiap mahluk, karena hal ini akan berkaitan dengan perasaan bahagia atau penderitaan, Atau dengan kata lain adanya konsep hukuman dan penghargaan.
Unsur dan sifat yang kedua ini sangat riskan sekali perbedaannya antara manusia dengan binatang. Jika ditinjau dari sifat imajinatifnya yang berkerja dengan indera jiwa, maka manusia pada hakikatnya adalah binatang. Karena pada binatang memiliki alat perasa atau indera jiwa. Tetapi sangat tidak masuk akal jika ditinjau dari sebuah konsep hukuman dan penghargaan yang dibutuhkan oleh eksistensi jiwa itu sendiri. Dengan kata lain, hati merupakan unsur yang kedua karena sisi – sisi moralitas dalam unsur ini sangat mendominasi berkaitan dengan imajinasi nafsu, hasrat, keinginan yang semua terangkum dalam sebuah kata hukuman dan penghargaan akan diri dan jiwa.
3. Rasional
Pada tingkatan ini, kita temui pada mahluk yang bernama manusia, yang konon manusia merupakan binatang berakal. Dengan kata lain akal hanya terdapat pada manusia saja. Dan akal bersifat berkembang. Akal dibangun atas dasar nalar dan pemikiran – pemikiran yang rasional. Berbeda dengan binatang yang hanya mencari makan dan memiliki organ – organ rasa saja. Unsur rasional pada diri manusia inilah yang menyebabkan terjadinya perkembangan – perkembangan pada konsep objektifitas dan keilmuan yang ada yang sistematika berkerjannya pun selalu dipengaruhi oleh unsur yang kedua “imajinatif” pada panca indera.
Ketiga unsur dan sifat jiwa yang terurai diatas pada dasarnya cukup sekali untuk kita “manusia” melihat perbedaan yang terdapat antara kita “manusia” dan binatang. Sehingga dalam proses pencarian jati diri dan eksistensi setiap manusia dalam hal ini terkait dengan tiga konteks dasar dalam bentuk pertanyaan yang mungkin sering sekali kita dengar yaitu ;
1. Siapakah AKU ?
Pertanyaan sekaligus pernyataan ini berkaitan dengan eksistensi jiwa dan jati diri setiap manusia sesungguhnya tentang makna sebuah perwujudan imateriil jiwa dan ruh suci yang abadi dan kekal serta terkurung dalam dimensi fana angkuh tubuh dan sombongnya dunia serta bagaimana mempertahankan hidup dalam peleburan sebuah ego diri.
2. Dari manakah AKU ?
Pertanyaan dan pernyataan yang kedua merupakan aplikasi dan sambungan dari pertanyaan dan pernyataan yang pertama. Dimana pada pertanyaan dan pernyataan ini adalah tentang makna asal jiwa yang berasal dari satu sumber keabadian dan bersifat kekal.
Dalam paham Syeh Siti Djenar yang dikenal juga dengan sebutan Syeh Lemah Abang yang disebut juga dengan ajaran “Manunggaling Kawula Gusti” adalah bahwa di dalam diri manusia terdapat ruh yang berasal dari ruh Tuhan sesuai dengan ayat Al Qur’an yang menerangkan tentang penciptaan manusia.
“Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya” (Shaad; 71-72).
Dengan demikian ruh Tuhan yang melebur dalam setiap hembusan nafas manusia (ruh manusia). Pada proses ini seolah terjadinya suatu penyatuan akan suatu konsep tentang persembahan kepada Tuhan (Ibadah). Dimana semesta raya selalu bershalawat terhadap manusia (Muhammad S.A.W) atas perintah dan izin-Nya.
3. Akan kemanakah AKU ?
Pertanyaan dan pernyataan ketiga ini merupakan final dari semua pernyataan dan pertanyaan yang diajukan oleh segumpal daging yang berfikir yang bermuara pada satu sumber tersebut nantinya.
Proses pencarian jati diri pada setiap diri manusia dan hakikat akan arti sebuah kehidupan akan membawa manusianya kembali pada satu jalan jiwa dimana jiwa tersebut berasal dan akan kembali ketempat asal pula. Dan tentunya dengan melebur ego yang ada dalam angkuh tubuh, melebur sifat nutritif yang berlebihan serta mengedepankan nurani dan rasionalitas yang dimiliki oleh jiwa manusia saja.
Dengan kata lain pada dasarnya manusia hanyalah segumpal daging anguh yang dapat berfikir dan selalu berfikir untuk sebuah eksistensi dirinya terhadap apa – apa yang didapatnya melalui sebuah transformasi konteks terhadap indera jiwanya.