Saat itu malam selasa, dimana pada malam itu aku mendapat giliran untuk ronda bersama warga desa yang lain. Rutinitas yang selalu dilakukan oleh warga tempat aku tinggal demi menjaga hal – hal yang tidak diinginkan serta memelihara lingkungan setempat. Yah, rutinitas mingguan yang sudah menjadi kewajiban bersama dan harus dijalani oleh seluruh warga secara bergilir.

Ketika sore hari, ku lihat langit mulai kelabu dengan sedikit terpaan angin yang memiliki kecepatan diatas biasanya. Belaian angin menari yang seolah – olah mengoyak – ngoyak setiap belahan jiwa yang rapuh akan sebuah eksistensi nya dan siap untuk menerpa segala keraguan atas kesombongan jiwa manusia. Kecepatan angin bergerak dipermukaan bumi yang tak biasanya, menggambarkan sebuah misteri yang ada di setiap sudut bumi dan seolah memberi isyarat pada kita  semua, bahwa kita pun akan dihempaskannya suatu saat nanti.

Tepat seperti dugaan ku. Tak lama setelah itu bumi ini pun disirami dengan rintik hujan yang sedikit demi sedikit pada awalnya. Tapi aku tahu bahwa sebentar lagi akan turun hujan yang lebat, karena langit sepertinya enggan untuk bersahabat dengan semua mahluk bumi yang naif akan sebuah eksistensi Tuhan dan berkecenderungan menjual ayat – ayat Tuhan demi sesuap nasi dan setetes air hina. Dengan kata lain manusia – manusia yang hanya memikirkan perut dan di bawah perut (sex dan makan saja).

Saat magrib menjelang hujan semakin lebat serta disusul dengan kilatan – kilatan lampu blits alami yang menakutkan serta gemuruh langit yang mulai muak dengan ulah – ulah manusia dimuka bumi. Cukup lama bagi langit biru untuk menahan semua emosinya dalam balutan awan kelabu yang sudah tak kuat lagi membendung air dan harus dimuntahkan diatas buminya yang haus akan ketamakan duniawi.

Hujan lebat dan tarian sang angin serta irama musik gemuruh muaknya langit pun saling melengkapi hingga menjadi satu – kesatuan utuh, yaitu nada dan irama semesta memuntahkan emosinya. Hujan lebat yang membasahi setiap sudut dan angkuhnya dunia pun terjadi. Memang tak lama butiran – butiran air yang menerjunkan diri itu terjadi. Karena muak dan emosi sang alam terbayar sudah dengan muntahan – muntahan hujan yang mulai mereda.

Setelah sekian lama, hujan yang mulai reda tetapi masih menyimpan sedikit enggan dihati ku untuk melaksanakan tugas negara “Nge-Ronda”. Karena sejujurnya aku adalah orang yang malas untuk hal – hal seperti itu, apa lagi ketika hujan terjadi. Tapi ketika aku memikirkan sebuah strategi khusus untuk menghindari tuntutan dari sebuah kata tugas bersama demi keamanan warga. sekitar jam setengah sepuluh malam waktu itu dan aku pun mulai menutup pintu dan … tiba – tiba terdengar  …

Murtado : Assalamualaikum ya ahli kubur ?

Murtado adalah seorang teman baik ku yang sedikit alim namun banyak brengseknya dan yang sangat pintar menyembunyikan krengsekannya dengan cara berdalil (menjual ayat Tuhan) dan berdalih (ngeles kaya tukang bajaj).

Nama murtado adalah sebuah nama kebangsaan yang diberikan anak – anak tongkrongan kami karena sikapnya yang selalu tak berubah. MURTADO dengan arti mukanya ramah tapi dongo. Karena mungkin itu memang sebuah nama yang tepat untuknya.

Murtado : Assalamualaikum ya ahli kubur ? (Salam keduanya ketika salam pertamanya tak bersambut). Lalu …

Aku : Waalaikum salam ya ahli hisap… (Jawab ku dengan sedikt lugas dan cemas karena khawatir akan diajak ngeronda). Lalu aku pun bertanya padanya …

Aku : Ada apa ni malem – malem kerumah ? (Jawab ku dengan wajah tak berdosa dan pura – pura tak tau). Untuk menghindari ngeronda.

Murtado : Biasa… Iseng – iseng,… Kita liatin ketongan biar ga ilang dibawa tukang bakso coy… (Gaya bercanda yang sangat khas sekali dari seorang yang memang mungkin sudah rusak sedikit pikirannya).

Aku : Ngeronda !! (Jawabku dengan sedikit males). Lalu aku pun bertanya padanya…

Aku : Tumben rajin… Ada apa ni ! (Tandas ku).

Murtado : Ah, Kampret lu… Orang rajin salah !! Ga rajin juga salah !!… Bingung gw sama lu dil… (Dengan wajah yang sedikit dongkol karena dibilang sok rajin).

Aku : Ga…biasa aja kali ngomongnya ga usah pake urat gitu…kaya bakso aja pake urat… he…he…(Canda ku).

Murtado : Au ah … (Jawabnya sambil memalingkan wajanya).

Aku : He…he… Ngambek !! (Sindir ku).

Murtado: Ah kampret lu,… Gw tampar bolak – balik pindah agama lu … (Candanya dengan sedikit emosi yang mulai meninggi). Dan aku pun menyadarinya.

Aku : Wedehhhh…Serem banget klo orang lu tabok jadi pada kafir “murtad” semua… He…he…he… (Sedikit bercanda untuk mencairkan suasana).

Murtado : Hahai… Tangan siapa dulu dong… MURTADO gitu loh !!!… (Sombongnya pun mulai nampak ketika ia dipuji oleh orang lain). Namun aku pun menyadari bahwa itu adalah gayanya yang sangat khas ketika bercanda.

Aku : Jadi takut ni gw… (Jawab ku dengan sedikit sindiran dan senyum manis disela bibir).

Murtado : Udah ah jangan takut ! (memberi ku sedikit motivasi dengan kata – kata nya yang mungkin tak enak untuk ku dengar).

Aku : Ga ko,..bukannya gw takut sama lu… (Jawab ku).

Murtado : Terus… (Sahutnya).

Aku : Takut aja…klo – klo Tuhan ciptain neraka khusus buat lu doang… (Dengan singkat ku jawab tanyanya).

Murtado : Maksudnya apa ?? (Dengan wajahnya yang  sedikit bingung).

Aku : Ya… Abis setiap orang lu tampar pindah agama …jadi kan tangan lu yang bikin orang jadi ingkar dan kafir (Jelas ku).

Murtado : Ooooooo… (Gumamnya).

Aku : Ga… TAD (Panggil ku). Bercanda ko…

Murtado : Tenang aja coy… (Tegasnya).

Aku : Bukan masalah tenang coy (Sahut ku).

Murtado : terus apa lagi (Sahutnya dengan jengkel).

Aku : Ga… Jangan – jangan …(Suara ku pun terhenti).

Murtado : Jangan – jangan apa ! (Tanyanya).

Aku : Jangan – jangan… Hidup lu dilaknat banyak orang lagi !… Abis setiap orang lu tampar pindah agama “murtad” … He…he… (Sembari aku tersenyum untuk meredam emosinya). Lalu…

Ha…ha…ha… Uhuyyyy….

Aku dan Murtado pun tertawa riang sambil menuju pos ronda yang kebetulan terletak beberapa meter saja tak jauh dari rumah ku.

Setibanya disana, kami pun merebahkan tubuh angkuh yang letih ini diatas ranjang bambu pos ronda yang tak hangat lagi karena udara malam sehabis hujan. Lalu kami terdiam sejenak sambil menatap langit – langit pos ronda yang memiliki celah untuk menembus gelap langit malam tanpa bintang dan bulan. Lalu terdengar gumamnya… sahabat ku pun bernyanyi tentang sebuah lagu kebangsaan kami sewaktu kecil dulu dalam versi bahasa asing tanpa iringan musik sedikit pun …

Chi chuk …

Chi chuk …

The then think …

The i am…

The i am …

Me are yupz …

That thanks she a cord nyam much …

Hope la lou that thanks cup …

Yaelah… serius amat sih baca nya …

Cuma lagu cicak – cicak didinding doang ko …

Ha…ha…ha… kami pun dengan bangga kembali menertawakan pikiran dan kekonyolan kami masing – masing… Lalu kembali ia bertanya pada ku ;

Murtado : Dil, ada kerjaan ga lu ?? … (Tanyanya tanpa dosa sedikit pun).

Aku : Ga ada… Mang kenapa ? (Jelas ku).

Murtado : Ga ko… Ga papa… Maksud gw, klo lu ga ada kerjaan mendingan lu diem aja…

Aku : Maksudnya !!! (Jelas ku).

Murtado : Ya… Mending lu diem… Nyanyinnya besok – besok aja klo ga ada Gw… (Dengan wajah polos tanpa dosa menatap ku). Sedikit bingung aku pun bertanya pada nya,

Aku : Maksudnya gimana sih ?? (Dengan wajah sedikit bingung).

Murtado : Ga, ko… Tapi ko,  klo lu mulai nyanyi…gw mules ya… He…he… (Candanya).

Aku : Au ah !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! Lalu ..

Murtado : Maen gaple aja yu … (Ajaknya).

Aku : Et deh…Gw ga bisa tad ! (Sombong ku berpura – pura dengan permainan yang berkonotasi negatif tersebut).

Murtado : Alah belagu amat lu ah… (Sindirnya).

Aku : He…he… (Tersenyum manis tanpa dosa). Lalu …

Aku : Kan ga boleh tad !!! …Haram !!!! (Jelas ku).

Murtado : Ya kaga lah coy… Orang Cuma maen gaple aja ko haram sih… Yang disebut haram itu … klo rente coy…pinjemin uang pake bunga… (Dengan sok sucinya ia menggurui ku).

Aku : Walau itu suka – sama suka Tad … (Tanya ku pada temanku yang keliatannya alim itu tapi sebenernya ancur banget).

Murtado : Maksudnya !!! (Berusaha memperjelas pertanyaan ku).

Aku : Ya..lu bilang kan tadi,, Klo suka sama suka ga papa dan ga dosa atau ga haram … ya kan ?? (Jelas ku). Berarti ga haram dong klo kita pinjem duit di bungain atau kita bungain uang ke orang asal suka sama suka… (Tandas ku).

Murtado : Klo itu tetep haram coy hukumnya dan dilarang agama … , soalnya itu sama aja dengan menari – nari diatas luka orang laen… Paham !!! (Tanyanya dengan sedikit ceramah layaknya alim ulama memberi ceramah diatas mimbar besar saja).

Aku : Kaya laler ya Tad … Hahahai … (Canda ku).

Murtado : Maksudnya (Ia bertanya pada ku karena memang ia benar – benar bingung dan tak mengerti maksudku).

Aku : Menari diatas luka !!! (Jelasku).

Murtado : Oooo….Ya… Tapi laler yang kecil – kecil ya … dan bukan laler ijo… He… (Canda nya pada ku).

Aku : Kiyu – kiyu !!!… Berapaan ni ??? … (Tanya ku disela – sela ceramah singkat tak berguna nya tersebut). Sambil mengocok dan membagikan sejumlah tumpukan kartu gaple.

Murtado : Dua ribuan aja lah Dil.. ga usah banyak – banyak, ntar cepet abis duitnya klo tarohannya kebanyakan … (Dengan bego nya menyahut tanpa disadari kalau dia sedang mengisi mimbar kultum ku “kuliah tujuh menit”).

Aku : !!!!

Sambil bermain kartu gaple 99 “kiyu – kiyu dibacanya” ia pun terus berceramah layaknya ustad kondang di sebuah mimbar pengajian balita tolol.

Aku : Klo maen gaple haram apa halal Tad ? (Sindir ku disela semua lidah tanpa tulang yang indah bercumbu dengan dalil itu).

Murtado : Klo yang ini … emm…e…em… (Dengan wajah sedikit bingung untuk menjelaskannya).

Aku : Kenapa ? (Tanya ku sekalian menguji pengetahuan agamanya).

Murtado pun terdiam sejenak, tanpa disadiri aku sedang memperhatikan sikapnya. Dalam hati ku pun berfikir tentang siasat atau seperangkat muslihat dan pernyataan busuk apa lagi yang disiapkan olehnya untuk menepis segala gundah dan tanya ku itu.

Lalu ia pun mencoba menjawab untuk mengobati rasa tanya yang ada dibenak ku …

Murtado : Begini coy… (Sapanya paku sahabat karibnya).

Aku : ^_^  (Aku pun tersenyum).

Murtado : Jangan ketawa dah… (Sindirnya).

Aku : Ya.. Gw percaya … Mang gw bilang klo gw ga percaya ya ?? (Jawab ku).

Murtado : Abisnya lu kaya nya menghina banget sih dengan senyum lu yang naif itu… Mulai muak gw sama lu dil …!!! (Tandasnya).

Sambil sesekali aku dan ia menghisap batang demi batang rokok yang tak henti – hentinya menemani pergulatan akbar kami tentang perdebatan sengit sebuah makna halal dan haram dengan berjubahkan membantu dengan membayar bunga.

Aku : Ya udah … Gw diem dah … (Nyata ku).

Murtado : Terus … (Jelasnya).

Aku : Ya… Lu terusin penjelasannya. (Minta ku pada sahabt karib ku tersebut).

Murtado : Klo maen gaple ga haram coy… (Jelasnya).

Aku : Mang kenapa ??? Alesannya apa emang ??? (Tanya ku kesekian kalinya).

Murtado : Ah bego banget sih lu… Nanya mulu !!! (Dengan wajah sedikit jengkel karena ia pun sadar jika aku memancingnya).

Aku : Serius ni … Gw bener – bener bega ni masalah ini ??? (Pancingku).

Murtado : Ya … Ga haram. (Jelasnya sekali lagi pada ku).

Aku : Ya… Kenapa ??? (Tanya ku mempertegas alasannya).

Murtado : Soalnya malaikat yang nyatet amal perbuatan kita sekarang lagi libur cuy…

Aku : Maksudnya (Jelas ku).

Murtado : Ya… Soalnya mereka “Munkar dan Nakir para malaikat yang nyatet amal perbuatan” lagi nyatet nilai ceki kita. (Candanya).

Ha…ha…ha…ha… Kami pun tertawa lepas tanpa beban dan tiba – tiba ;

Murtado : Uhuk…uhuk…uhuk… (Batuk karena kesek asep roroknya).

Aku : Nape lu ??? Cie…cie..yang disentil malaikat, .. Jadi batuk dah tu … (Sindirku).

Murtado : Tau ni… Ngiri aja mentang – mentang mereka “malaikat yang nyatet amal perbuatan” ga diajak ngerokok malaikatnya. (Sedikit jengkel dengan wajah yang masih memerah karena batuknya).

Aku : Mang dia malaikat atau penjaga kasino sih Tad ??? (Ledek ku dan tanya ku sambil menyondirnya).

Murtado : Mang dosa ya coy kita maen gaple… (Tanyanya).

Aku : Ya ga lah … Kan tadi lu yang bilang begitu … (Jelas ku atas pernyataan yang telah dilontarkannya).

Murtado : Ya…Juga ya… (Dengan sedikit tololnya).

Aku : Gitu dong !!! (Memberinya sedikit semangat untuk menghabiskan putaran permainan dan hisapan rokok yang tingal sebatang ditangan kami masing – masing).

Murtado : Berarti ga dosa kan ya…Wahai Wahidil Qohar, sahabat ku (Tanya nya sekaligus merayu).

Aku : Tad, klo dosa itu bejendol, berarti muka lu dipenuhin jendolan semua Tad… (Jelas ku).

Murtado : Iya juga ya… Pinter lu… Nyantren dimana lu… (Seindirnya).

Aku : Nyantern di pos ronda… (Jawab ku).

Murtado : He… (Dengan wajahnya yang sedikit malu pada ku).

Aku : Kan , Ustadnya elu… gimana sih ah !!! (Tandas ku).

Murtado : Udahan ah maen gaple nya … Ntar gw dikutuk jadi botol lagi sama malaikat… (Cemas nya seolah tak lagi percaya akan takdir Tuhan).

Aku : Mang kenapa ??? (Tanyaku mempertegas candanya yang tak lagi sehat menurutku).

Murtado : Ya…maen judi mulu sambil nyela malaikat …. (Sedikit ragu atas semua pernyataannya yang telah dilontarkan pada ku).

Aku : Ya kalo dikutuk jadi botol parfum… (Canda ku).

Murtado : Mang kenapa ??? (Tanyanya).

Aku : Klo dikutuk jadi botol parfum aga bagusan coy,… Tapi klo dikutuk jadi botol minyak angin…Coba aja lu bayangin sendiri… (Tegasku).

Murtado : Ya … Juga ya… Klo botol minyak angin kan… Kecil ya…udah gitu bantet..keras lagi… (Jelasnya).

Aku : Hahahaha (Tawa ku dengan riang melihat ketololannya).

Murtado : Iya kan !!! (Ia pun mempertegasnya).

Aku : Udahlah mendingan kita keliling aja yu… (Ajak ku).

Murtado : Ok…

Aku : Ya udah lu keliling…Gw jaga lilin… Ntar klo api nya goyang gw tinggal tiup aja…

Murtado : Ko gitu (Sindirnya).

Aku : Ya iya lah…Berarti kan lu lagi du gebukin orang sekampung … (Jelas dan canda ku).

Murtado : Anjing lu…Lu pikir gw babi ngepet apa ??? (Dengan wajah sedikit kesel).

Aku : Ya udalah ga usah ngambek…Yu kita keliling !! (Ajak ku).

Kami pun berdua keliling kampung untuk memastikan keamanan kampung kami.